Rabu, 10 Juli 2013

Marginal Utility dalam Kehidupan

Masih ingat dengan The Law of Diminishing Return atau Marginal Utility yang kita pelajari waktu di SMP/SMA dulu? Semakin banyak sendok nasi yang kita makan, kenikmatannya akan terus menurun. Hal yang sama terjadi, kenikmatan mengendarai mobil baru, awalnya enak dan nyaman lama kelamaan menjadi biasa. Sebaliknya jika harus turun kelas, naik mobil yang nggak enak, awalnya akan merasa tidak enak dan mau muntah, namun lama kelamaan akan terbiasa, jadi enak juga.
Seseorang yang sebelumnya pake Mercedes E Class, siapapun tahu ini mobil paling nyaman di kelasnya. Karena sesuatu dan lain hal ia harus ganti menjadi Kijang Kapsul baru 2000 cc. Apa yang terjadi? Ia dan seluruh keluarga merasa tidak enak bahkan sebagian lagi merasa pusing dan mual. Namun lama kelamaan menjadi terbiasa dan bisa juga menikmati Kijang Kapsul.

Seseorang yang pakai mobil yang lebih nyaman, anggaplah nilai kenyamanannya 9. Rasa nyaman ini terasa signifikan waktu pertama ganti mobil. Namun lama kelamaan kenyamanan tersebut menjadi biasa rasanya sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu, hingga akhirnya nilai rasanya hanya tinggal 7 tidak jauh berbeda dengan Kijang Kapsul. Kenyamanan mobil ini baru terasa signifikan lagi, setelah saya naik mobil yang lebih rendah kualitas kenyamanannya. Inilah pentingnya variasi hidup, kadang naik angkot, kadang naik KRL, kadang makan di warteg.

Contoh lainnya, dulu saya pernah punya teman kantor sangat cantik dan seksi (maaf jika dianggap vulgar), saat itu saya menganggap nilainya 9. Lama kelamaan berinteraksi dengannya, nilai kecantikannya menjadi biasa dan turun hingga tinggal 7. Ternyata, kawan cantik satu ini punya sifat buruk, yaitu suka selingkuh dengan teman kantor pria yang masih muda. Seketika saya menjadi sebal dengannya dan nilainya anjlok di mata saya tinggal 4.

Di lain pihak, ada rekan kantor wanita yang sangat buruk rupanya, pertama kali bertemu mungkin nilainya 4. Namun lama kelamaan berinteraksi dengannya menjadi biasa dan menjadi tidak jelek-jelek amat, nilainya berangsur membaik menjadi 5,5. Apalagi setelah melihat akhlaknya yang baik, perhatian, santun, dan rajin shalat. Nilainya semakin naik hingga menjadi 7.

Hal inilah, yang dapat menjawab mengapa banyak pasangan suami-isteri artis yang ganteng dan cantik, namun umur perkawinannya tidak panjang. Ketika ukuran mereka hanya dilihat dari outer beautynya saja, maka berlakulah Marginal Utility yang nilainya semakin menurun.

Itulah pentingnya niat yang lurus dalam perkawinan. Jika menikah karena kecantikannya, keturunannya atau hartanya, maka menurun kualitasnya semua. Namun jika kita menikah karena agamanya maka “Tarobat yadaaka” kita akan merasa puas dan penuh keberkahan.

Jika kita menikah dengan niat yang benar, maka semakin berlalunya waktu kita akan semakin cinta dengan pasangan kita. Semakin cinta karena isteri kita pandai merawat anak-anak, semakin cinta kepada suami karena rajin shalat malam dan rajin berdakwah. Masya Allah…

Seorang tukang becak, yang biasa makan ngirit di warteg, suatu ketika diajak makan di Rumah Makan Sederhana, pake ayam pop atau ayam sayur, maka ia akan merasakan kenikmatan yang luar biasa seperti di surga dunia. Sebaliknya seorang kaya, yang biasa makan di hotel-hotel berbintang, restoran-restoran kelas dunia, jika kita ajak makan di rumah makan biasa tentu menjadi sangat tidak berselera.

Inilah Maha Adilnya Allah SWT. Ternyata kenikmatan tidak selalu berbanding lurus dengan materi. Itu sebabnya orang barat berkata: “You can buy bed but not sleep, you can buy house but not home“. Dan kita teringat pada perkataan sayidina Ali ra bahwa “Orang yang paling kaya adalah orang yang paling qona’ah“. Qona’ah dan bersyukur merupakan kata kunci hidup bahagia, kehidupan yang memiliki nilai tambah dan keberkahan.

Dengan memahami hal ini dengan baik, kita akan bisa memandang kehidupan dunia dengan benar.
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." Al Hadid ayat 20. WaLlahu a’lam

Spiritual itu Menular


Suatu ketika, saya bermalam dengan seorang ustad di sebuah hotel di Bali. Kami menginap selama 5 hari 4 malam. Selama 3 malam, sang Ustad senantiasa bangun jam 3 malam, melakukan Qiyamul Lail, kemudian membaca Al-Quran hingga shubuh menjelang. Hanya malam pertama saja, beliau bangun pas waktu shubuh, mungkin hal itu disebabkan masih kelelahan dan “Jet-Lag” karena Bali lebih dahulu 1 jam dari Jakarta.

Pada kesempatan yang lain, saya kedatangan tamu seorang rekan. Ketika disuguhkan kepadanya secangkir kopi panas, beliau menolak dengan halus, “Maaf saya sedang puasa”. Rupanya beliau sedang puasa senin-kamis.

Dua kejadian ini, secara signifikan mempengaruhi kondisi spiritual (maknawiyah) penulis. Spiritualitas itu menular. Jadi, mari tingkatkan ibadah kita, insya Allah dampaknya (atsar) akan bermanfaat bagi orang lain. Setiap kali kita mendatangki pertemuan (liqo) taklim, persiapkan spiritual kita sebaik-baiknya. Niscaya pancaran cahaya spiritual kita akan menerangi rekan-rekan kita yang lain. Wallahu a’lam

Menggapai Kenikmatan Hakiki


Setiap kita pasti pernah mengalami naik turunnya iman. Ketika iman dalam kondisi naik, maka hati menjadi tenang, bebas dari stress, urusan yang berat menjadi mudah, shalat khusyu’, baca Al Quran enak, hubungan antar manusia menjadi harmonis, bibir kerap tersenyum, cinta kepada Allah dan rindu kampung akhirat.

Sebaliknya, ketika iman sedang turun, maka hati dan pikiran menjadi resah gelisah, depresi melanda, masalah kecil terasa berat dan susah, shalat tidak khusyu’, baca Al Qur’an tidak bisa menikmati, hubungan dengan isteri jadi dingin, sering marah kepada anak, bibir susah tersenyum, hubud dunya dan cinta materi berlebihan.

Ketika iman dan maknawiyah kita sedang prima, kita merasakan kenikmatan hakiki yang tiada tara, kita ingin agar Allah SWT mengaruniai terus kenikmatan iman ini, seraya kita berdo’a, “Ya Rabbana, janganlah Engkau balik kembali hati kami sesudah Engkau beri hidayah kepada kami, dan karuniailah kamu kasih sayang dari Sisi-Mu….”

Saudara seiman….., untuk mendapatkan kenikmatan hakiki ini, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah tinggalkan ma’shiyat dan perbanyak istighfar. Hindarilah dosa sekecil apapun, semampu kita. Mulai dari dosa pandangan mata, dosa dusta dalam bicara, menyantap makanan haram, lalai dalam taat kepada-Nya. Ingatlah, setiap dosa yang kita perbuat akan menimbulkan noktah rona hitam, yang kian menutup hati kita. Hati menjadi mati dan tidak lagi sensitif. Tidak lagi bergetar ketika dibacakan ayat-ayat Allah atau mendengar Asma-Nya. Na’udzu biLlah…., betapa meruginya jika kita tidak dapat lagi merasakan itu semua, tidak bisa menikmati Al Qur’an, tidak mampu khusyu’ dalam shalat, tidak bisa menangis karena takut akan azab-Nya.

Jika kehidupan kita sudah terlanjur bergelimang dosa, dan jiwa demikian menderita diliputi nestapa serta kegoncangan jiwa. Segeralah berjalan menemui-Nya, maka Ia akan berlari menghampirimu. Ucapkan sayyidul Istighfar dengan lisan dan perasaan, maka engkau akan mendapati-Nya, Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Engkau akan merasakan hati ini menjadi bening, rontoklah sedikit demi sedikit noktah yang menutupi jiwa, dan engkau akan merasakan hati yang sejuk… tenang… oh… betapa indahnya.

Saudaraku… jika engkau belum mampu melakukannya, atau engkau belum bisa merasakan kehadiran-Nya, mungkin karena sudah terlalu banyak dosa kita, sudah terlalu mati dan hitam hati kita. Namun jangan berkecil hati dan berputus asa, Allah hanya sedang menguji kesungguhan dan kesabaran kita.

Saudaraku… mari kita mulai dengan 3 hari tanpa dosa. Jagalah semua panca indera dari hal-hal yang dilarang-Nya. Diawali dengan niat dan kesadaran ingin lebih mengenal-Nya, dekat dengan-Nya, mencintai-Nya. Setiap kali akan tergelincir, segera ingatlah Allah dan beristighfarlah. Percayalah…. engkau akan bisa merasakan Ia datang menyambutmu. Hatimu melunak melembut, pikiran dan perasaan menjadi tenang, engkau akan menjadi orang yang pemurah, shalat menjadi nikmat dan engkau akan menjadi suami yang baik, menjadi bapak yang hebat, menjadi tetangga yang menyenangkan.

Setelah mendapatkan ini, syukuri dan menangislah…. wahai saudaraku. Yaa Allah,….. inilah nikmat yang kucari, yang hilang selama ini, tertutup dengan kesombongan dan durhakaku kepadaMu. Jangan cabut lagi rasa ini, Yaa Allah…. Perkenankan rasa ini terus bisa kunikmati hingga tiba saatnya menemui-Mu.

Saudaraku… pertahankan nikmat ini, dengan terus istiqomah menjauhi ma’shiyat, taat terhadap perintah-Nya, berbuat baik kepada sesama. Saudaraku… semoga Allah kelak mengumpulkan kita di surga-Nya, dan kita akan membincangkan hal indah ini lagi di sana…. Amin

Mengukur Kualitas Spiritual


Apa yang kita dengarkan ketika seorang diri mengendarai mobil, atau seorang diri di kamar? Kita mungkin memutar bacaan Al-Quran (murattal), lagu-lagu ruhani atau lagu-lagu cinta. Apa yang kita putar menunjukkan kondisi spiritual kita. Demikian juga, apa yang kita lakukan di waktu senggang menunjukkan kualitas keimanan diri kita saat itu.

Jika jiwa kita merasa senang dan tenteram mendengar murattal Al Quran, senang mendengar syeikh Sudais, Shuraim, Matrud, berarti kondisi spiritual kita sedang sangat prima. Bersyukurlah, dan pertahankan! Kita sedang merasakan nikmatnya ekstasi jiwa, tubuh kita banyak memproduksi hormon endorfin yang menenangkan.

Jika kita lebih senang mendengar nasyid atau lagu ruhani, bersyukurlah juga berarti kondisi spiritual baik dan cukup prima. Apalagi jika senang mendengarkan lagu-lagu perjuangan, renungan tentang kehidupan, pujian kepada Allah, atau shalawat yang diiringi kerinduan berjumpa dengan Rasulullah SAW.

Pada derajat yang lebih rendah, kita lebih senang mendengar lagu-lagu ruhani yang berkaitan tentang percintaan dan romantisme. Masih bagus juga, koq.

Pada kondisi maknawiyah yang di bawahnya lagi, jiwa ini senang mendengar instrumentalia, yang kita anggap sebagai refleksi suara alam. Sebagian dari kita berargumen bahwa, beberapa jenis instrumentalia bisa berfungsi sebagai hypno-therapy, karena dapat menyesuaikan gelombang otak mencapai gelombang alpha yang menenangkan. Namun ternyata, berdasarkan penelitian yang dilakukan di Malaysia, mendengarkan murottal dapat secara cepat mencapai gelombang alpha, bahkan membaca atau mendengar Al Quran dengan penghayatan yang kuat bisa mencapai kondisi trans (delta), seperti rasa haru, menangis dan khusyu’ yang dalam. Penelitian lain menunjukkan, dampak menenangkan dari mendengar murottal lebih kuat dan lebih lama daripada menggunakan musik instrumentalia. Seseorang yang mengendarai kendaraan diiringi dengan mendengar murattal, maka ia akan lebih konsentrasi dan tidak mudah mengantuk.

Pada kondisi spiritual terlemah, jiwa ini lebih suka mendengar lagu-lagu percintaan barat maupun Indonesia. Lagu-lagu dengan berbagai jenis musik kontemporer, seringkali menggunakan bit yang cepat dan baru bagus jika didengarkan dengan power yang kuat dan sound system yang berkualitas tinggi. Seringkali syairnya hanya berisi syahwat, mengumbar nafsu, dan terkadang melabrak rambu-rambu moral. Lagu-lagu seperti ini dalam jangka panjang akan membawa pikiran sadar maupun bawah sadar kepada gelombang beta yang memiliki karakteristik meningkatkan tingkat depresi, rasa resah, lelah.

Ketika kita memiliki waktu luang, untuk apa kita gunakan? Ketika banyak kita gunakan untuk nonton TV, banyak bengong dan tidur menunjukkan kondisi ruhiyah yang lemah. Seringkali muncul pikiran berkecamuk hebat, dengan tingkat depresi tinggi, namun tidak tahu harus berbuat apa, dan pada akhirnya tingkat produktifitas diri menjadi rendah.

Sebaliknya, jika kita memiliki kondisi ruhiyah yang prima, waktu demi waktu berjalan demikian berharga dan menyenangkan. Sebagian waktu malam kita gunakan untuk kontemplasi, dimana sejuknya embun iman terasa mengisi relung-relung jiwa. Shalat fajar sangat sayang untuk ditinggalkan karena lebih baik dari dunia dan seisinya. Perjalanan menuju mesjid untuk shalat shubuh berjama’ah menjadi saat-saat yang indah. Kaki melangkah dengan satu kebaikan di tiap langkahnya, sembari bergumam: “Allahummaj’al fii qolbii nuuro, wa fii lisaani nuuro…..“.

Keimanan pada sunnah Rasulullah menjadikan kita enggan untuk langsung tidur habis shalat shubuh. Tidur sehabis shubuh adalah menolak rizki, sebagaimana tidur antara ashar dan maghrib dapat menjadi pintu datangnya penyakit. Waktu yang Allah sediakan antara shubuh hingga dhuha, sangat nikmat kita gunakan membaca wirid Al Ma’tsurat Kubro disambung dengan tilawah Al Quran beberapa lembar. Betapa nikmatnya hari yang diawali dengan amalan ibadah seperti ini.

Melaksanakan hal di atas pasti berat jika belum terbiasa, namun jika sudah menjadi kebiasaan akan sangat luar biasa untuk kehidupan kita. Jika tidak ada keperluan penting, jangan tidur terlalu malam agar dapat bangun dini hari dalam keadaan segar. Serta hindari maksyiat, perbanyak istighfar, insya Allah kita akan dimudahkan untuk melaksanakan semua kebaikan di atas. Wallahu a’lam.

Kamar Hotel sebagai Mihrab


Seringkali, tuntutan tugas membuat kita harus menginap di hotel. Banyak orang terperosok ke lembah kemaksyiatan ketika bermalam di luar kota jauh dari keluarga, apalagi hanya seorang diri dan tidak dikenal oleh penduduk kota tersebut. Mulai sekarang syukurilah, jika Anda mendapat kesempatan bermalam di kamar hotel, karena Anda memiliki peluang untuk merasakan kenikmatan tiada tara, berkhalwat dengan Allah SWT di Mihrab kamar hotel Anda.
Ingatlah, Allah dan para malaikat-Nya tetap bersama kita walaupun kita jauh dari rumah. Jauhi maksyiat dan jangan sampai ikut-ikutan rekan kita yang biasanya lupa diri dan merasa bebas di tanah orang. Percayalah, maksyiat akan lebih banyak merugikan kita. Mulai dari berkurangnya atau hilangnya rasa cinta kepada keluarga, hilangnya keimanan dan nikmatnya ibadah, rasa stress dan depresi yang berkepanjangan. Belum lagi resiko ketahuan dan cemarnya nama baik kita, yang bisa menghapus kerja dan citra diri yang sudah kita bangun berpuluh-puluh tahun, ditambah resiko tertular penyakit. Jika belum cukup, ingatlah nikmat-nikmat yang telah Allah berikan, istri yang shalihah, anak-anak yang cerdas dan pintar, nikmat Iman, tegakah semua itu kita hianati?

Di Jakarta terlalu banyak pekerjaan dan beban pikiran. Kita sering tidur larut membuat kita susah bangun malam. Tubuh lelah, jiwa letih…. butuh istirahat tawaquf sejenak. Sekaranglah saatnya, Allah memberi kesempatan di kamar hotel ini, di tempat yang jauh dari beban pikiran dan pekerjaan, kita bisa memberi istirahat dan rihlah bagi jasad dan jiwa ini.

Langkah pertama, begitu memasuki kamar hotel yang masih rapi, bayangkanlah nanti malam tempat ini akan menjadi mihrab kita bermesraan dengan Allah SWT. Usahakan tidur jangan terlalu malam, agar bangun dini hari dalam keadaan fresh dan segar.

Bawalah selalu sajadah di tas Anda. Siapkan mihrab Anda sebelum tidur. Bangkitkan kerinduan pada Khaliq sebelum lelap di pembaringan. Usir semua gangguan syetan, dengan membaca ayat kursi, mu’awidzatain dan al-Ikhlash. Tidurlah dengan tenang dengan ridho dan kecintaan-Nya. Pasang alarm untuk menjamin kita bangun pada waktu yang kita inginkan.

Bangun dini hari, pujilah Allah, yang telah membangunkan kita kembali dari tidur, sebagaimana nanti Ia akan menghidupkan kita kembali dari kematian. Saat ini, alam tengah memancarkan gelombang Alfa kekhusyu’an. Hati kita pun merasa khusyu’ menahan kerinduan bertemu dengan-Nya. Pakailah busana terbaik nan suci, pakailah wewangian sebagai aromatherapy penambah kekhusyu’an. Nikmatilah ruku’ dan sujudmu, tumpahkan air matamu… rasakan kasih sayang-Nya meliputi tubuh-Mu…. Asma-Nya mengisi relung hatimu… Itulah kenikmatan hakiki….

Malam Hidayah


Malam ini, seorang hamba mengalami pengalaman spiritual, yang Subhanallah….. Prosesnya diawali dengan keinginannya yang kuat untuk semakin mengenal-Nya. Setiap habis shalat, terutama shalat lima waktu, ia selalu ingin dalam keadaan khusyu yang optimal. Sehabis shalat, masih merasakan nuansa khusyu, saat merasa dekat dengan Allah, selalu ia gunakan untuk berdo’a dengan menggunakan seluruh perasaan, memohon apa-apa yang ia inginkan dari Allah SWT. Waktu shalat menjadi waktu-waktu yang mengasyikkan, dan waktu shalat menjadi waktu-waktu yang selalu dinanti kedatangannya.

Sang hamba ini, tiba-tiba tersadar bahwa rasa cinta adalah anugerah dari Allah SWT. Jika Allah cabut rasa cinta, dari seorang hamba kepada isterinya, bayangkan betapa hancur rumah tangganya, bahkan bisa menghancurkan karir dan seluruh hidupnya. Dan rasa cinta ini, semata-mata karunia dan hadiah dari Allah, tidak bisa kita nalar, tidak bisa kita logika, tidak bisa dibeli dengan emas permata. Jika Allah masih menyuburkan rasa cinta dihatimu kepada pasangan hidupmu, bersyukurlah sedalam-dalamnya kepada Sang Maha Pemberi Cinta. Syukuri dan peliharalah cinta tersebut agar senantiasa bersemai subur dalam hatimu.

Setelah itu, sang hamba merasakan keheningan malam, dimana alampun menghamparkan nuansa kekhusyu’an, tiba-tiba gelombang kekhusyu’an menerpa batin dan raganya. Seketika muncul kerinduan untuk bermesraan dengan Rabb-nya. Dengan sangat jelas, Ia dapat merasakan cinta-Nya. Tanpa merasa berat dan merasa terpaksa sedikitpun, tidak mengindahkan dinginnya malam, ia mandi menghilangkan hadats besar, bersuci karena ingin segera menghadap Kekasihku. Dan mengenakan pakaian terbaiknya.

Teringat firman Allah SWT dalam hadis Qudsi, ”Apabila seorang hamba-Ku mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari. Apabila ia mendekati-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatinya satu hasta.”.

Inilah yang ia rasakan, jika Allah menghendaki, dijadikannya ringan untuk merasakan kenikmatan iman, mudah menapaki jalan syariat-Nya.

Detik-detik selanjutnya ia telah berada di nirwana-Nya. Ia merasakan ekstasi kenikmatan shalat malam yang tiada taranya, pantaslah seorang tabi’in mengatakan… “Jika tidak ada waktu-waktu indah di sepertiga malam, aku tidak akan betah hidup di dunia ini”. Ya Allah, jika Engkau berkenan, maka mudahlah jalan bagiku untuk mengenal-Mu, untuk taat kepada-Mu. Ya Rabb, jangan Engkau balik kembali hati kami ini setelah Engkau beri petunjuk kepada Kami…”.

Linangan air mata saat beribadat kepada-Nya, diiringi kekhusyu’an jiwa membuat hati bisa memahami ayat-ayat-Nya. Pemahaman yang tidak bisa dilakukan oleh akal pikiran. Pantaslah dalam Al Quran, memahami itu dilakukan oleh hati. Membaca surah Adh-Dhuha dan Alam Nasyrah seakan-akan baru pernah membaca saat itu. Merasakan dengan mendalam bahwa akhirat lebih utama dari dunia. Dan Allah kelak akan memberikan karunia-Nya kepada kita hingga kita puas. Hati demikian tersentuh ketika Allah mengingatkan dulu engkau yatim dan Allah melindungimu, dulu kita berada dalam kesesatan dan Allah memberikan hidayah-Nya, dulu kita kekurangan dan sekarang Dia memberikan kita kecukupan. Bukankah demikian halnya diri kita? Air mata berderai….. betapa selama ini kita kurang bersyukur kepada-Nya. Buktinya…. Kita belum berlaku baik kepada anak yatim, dan terkadang suka mengusir peminta-minta. Terlintas beraneka kenikmatan-kenikmatan yang Allah berikan, namun belum kita syukuri dengan semestinya. Maka pantaslah bila Allah belum menambah kenikmatan-Nya, sedang kenikmatan yang sudah adapun belum kita syukuri.

Surat Alam Nasyrah demikian melapangkan dada menghadapi kehidupan dunia yang menyesakkan. Surat ini cukup untuk mengobati stress akibat beban kehidupan yang berat. Cukuplah surat ini sebagai obat stress bagi yang mau menggunakannya. Dengan meyakini bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Yakin bahwa Allah akan memberikan kita kemudahan, maka laluilah kesulitan yang kita hadapi dengan ikhlas. Caranya kerjakan semua pekerjaan satu demi satu dengan sebaik-baiknya, dan jangan lupa untuk tetap menggantungkan harapan kepada Allah SWT.

Surah yang sama, ayat yang sama, namun jika Allah tidak menunjuki, seseorang bisa tidak mendapatkan apa-apa. Ya Allah limpahkanlah untuk kami hidayah-Mu, dan kepada keluargaku, Isteri dan anak-anakku, karena hidayah-Mu lah mereka menjadi generasi penegak shalat dan pengamal Al-Quran. Ya Allah, perkenankan hamba untuk semakin mengenal-Mu, perkenankan hamba untuk senantiasa bergantung kepada-Mu, memohon pertolongan-Mu…. Hingga hamba menghadap-Mu.

8 Nasihat Umar bin Khatthab RA :

1. Barang siapa meninggalkan ucapannya yang tidak perlu, maka ia akan diberi hikmah
2. Barang siapa meninggalkan penglihatannya yang tidak perlu, maka dia akan diberi kekhusu'an dalam hati.
3. Barang siapa meninggalkan makan yang berlebihan, maka dia akan diberi kenikmatan dalam beribadah.
4. Barang siapa meninggalkan tertawa yang berlebihan, maka dia akan deberi kewibawaan.
5. Barang siapa meninggalkan humor, maka dia akan dapat kehormatan.
6. Barang siapa meninggalkan cinta dunia, maka dia akan diberikan kecintaan kepada akhirat.
7. Barang siapa meninggalkan perhatiannya kepada aib orang lain, maka dia akan diberi kemampuan untuk memperbaiki aib sendiri.
8. Barang siapa yang meninggalkan penelitian tentang bagaimana wujud Allah, maka dia akan terhindar dari nifak.
(Nashoihul 'Ibad, hal 214 karya Imam Nawawi )