Rabu, 10 Juli 2013

Menggapai Kenikmatan Hakiki


Setiap kita pasti pernah mengalami naik turunnya iman. Ketika iman dalam kondisi naik, maka hati menjadi tenang, bebas dari stress, urusan yang berat menjadi mudah, shalat khusyu’, baca Al Quran enak, hubungan antar manusia menjadi harmonis, bibir kerap tersenyum, cinta kepada Allah dan rindu kampung akhirat.

Sebaliknya, ketika iman sedang turun, maka hati dan pikiran menjadi resah gelisah, depresi melanda, masalah kecil terasa berat dan susah, shalat tidak khusyu’, baca Al Qur’an tidak bisa menikmati, hubungan dengan isteri jadi dingin, sering marah kepada anak, bibir susah tersenyum, hubud dunya dan cinta materi berlebihan.

Ketika iman dan maknawiyah kita sedang prima, kita merasakan kenikmatan hakiki yang tiada tara, kita ingin agar Allah SWT mengaruniai terus kenikmatan iman ini, seraya kita berdo’a, “Ya Rabbana, janganlah Engkau balik kembali hati kami sesudah Engkau beri hidayah kepada kami, dan karuniailah kamu kasih sayang dari Sisi-Mu….”

Saudara seiman….., untuk mendapatkan kenikmatan hakiki ini, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah tinggalkan ma’shiyat dan perbanyak istighfar. Hindarilah dosa sekecil apapun, semampu kita. Mulai dari dosa pandangan mata, dosa dusta dalam bicara, menyantap makanan haram, lalai dalam taat kepada-Nya. Ingatlah, setiap dosa yang kita perbuat akan menimbulkan noktah rona hitam, yang kian menutup hati kita. Hati menjadi mati dan tidak lagi sensitif. Tidak lagi bergetar ketika dibacakan ayat-ayat Allah atau mendengar Asma-Nya. Na’udzu biLlah…., betapa meruginya jika kita tidak dapat lagi merasakan itu semua, tidak bisa menikmati Al Qur’an, tidak mampu khusyu’ dalam shalat, tidak bisa menangis karena takut akan azab-Nya.

Jika kehidupan kita sudah terlanjur bergelimang dosa, dan jiwa demikian menderita diliputi nestapa serta kegoncangan jiwa. Segeralah berjalan menemui-Nya, maka Ia akan berlari menghampirimu. Ucapkan sayyidul Istighfar dengan lisan dan perasaan, maka engkau akan mendapati-Nya, Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Engkau akan merasakan hati ini menjadi bening, rontoklah sedikit demi sedikit noktah yang menutupi jiwa, dan engkau akan merasakan hati yang sejuk… tenang… oh… betapa indahnya.

Saudaraku… jika engkau belum mampu melakukannya, atau engkau belum bisa merasakan kehadiran-Nya, mungkin karena sudah terlalu banyak dosa kita, sudah terlalu mati dan hitam hati kita. Namun jangan berkecil hati dan berputus asa, Allah hanya sedang menguji kesungguhan dan kesabaran kita.

Saudaraku… mari kita mulai dengan 3 hari tanpa dosa. Jagalah semua panca indera dari hal-hal yang dilarang-Nya. Diawali dengan niat dan kesadaran ingin lebih mengenal-Nya, dekat dengan-Nya, mencintai-Nya. Setiap kali akan tergelincir, segera ingatlah Allah dan beristighfarlah. Percayalah…. engkau akan bisa merasakan Ia datang menyambutmu. Hatimu melunak melembut, pikiran dan perasaan menjadi tenang, engkau akan menjadi orang yang pemurah, shalat menjadi nikmat dan engkau akan menjadi suami yang baik, menjadi bapak yang hebat, menjadi tetangga yang menyenangkan.

Setelah mendapatkan ini, syukuri dan menangislah…. wahai saudaraku. Yaa Allah,….. inilah nikmat yang kucari, yang hilang selama ini, tertutup dengan kesombongan dan durhakaku kepadaMu. Jangan cabut lagi rasa ini, Yaa Allah…. Perkenankan rasa ini terus bisa kunikmati hingga tiba saatnya menemui-Mu.

Saudaraku… pertahankan nikmat ini, dengan terus istiqomah menjauhi ma’shiyat, taat terhadap perintah-Nya, berbuat baik kepada sesama. Saudaraku… semoga Allah kelak mengumpulkan kita di surga-Nya, dan kita akan membincangkan hal indah ini lagi di sana…. Amin

Mengukur Kualitas Spiritual


Apa yang kita dengarkan ketika seorang diri mengendarai mobil, atau seorang diri di kamar? Kita mungkin memutar bacaan Al-Quran (murattal), lagu-lagu ruhani atau lagu-lagu cinta. Apa yang kita putar menunjukkan kondisi spiritual kita. Demikian juga, apa yang kita lakukan di waktu senggang menunjukkan kualitas keimanan diri kita saat itu.

Jika jiwa kita merasa senang dan tenteram mendengar murattal Al Quran, senang mendengar syeikh Sudais, Shuraim, Matrud, berarti kondisi spiritual kita sedang sangat prima. Bersyukurlah, dan pertahankan! Kita sedang merasakan nikmatnya ekstasi jiwa, tubuh kita banyak memproduksi hormon endorfin yang menenangkan.

Jika kita lebih senang mendengar nasyid atau lagu ruhani, bersyukurlah juga berarti kondisi spiritual baik dan cukup prima. Apalagi jika senang mendengarkan lagu-lagu perjuangan, renungan tentang kehidupan, pujian kepada Allah, atau shalawat yang diiringi kerinduan berjumpa dengan Rasulullah SAW.

Pada derajat yang lebih rendah, kita lebih senang mendengar lagu-lagu ruhani yang berkaitan tentang percintaan dan romantisme. Masih bagus juga, koq.

Pada kondisi maknawiyah yang di bawahnya lagi, jiwa ini senang mendengar instrumentalia, yang kita anggap sebagai refleksi suara alam. Sebagian dari kita berargumen bahwa, beberapa jenis instrumentalia bisa berfungsi sebagai hypno-therapy, karena dapat menyesuaikan gelombang otak mencapai gelombang alpha yang menenangkan. Namun ternyata, berdasarkan penelitian yang dilakukan di Malaysia, mendengarkan murottal dapat secara cepat mencapai gelombang alpha, bahkan membaca atau mendengar Al Quran dengan penghayatan yang kuat bisa mencapai kondisi trans (delta), seperti rasa haru, menangis dan khusyu’ yang dalam. Penelitian lain menunjukkan, dampak menenangkan dari mendengar murottal lebih kuat dan lebih lama daripada menggunakan musik instrumentalia. Seseorang yang mengendarai kendaraan diiringi dengan mendengar murattal, maka ia akan lebih konsentrasi dan tidak mudah mengantuk.

Pada kondisi spiritual terlemah, jiwa ini lebih suka mendengar lagu-lagu percintaan barat maupun Indonesia. Lagu-lagu dengan berbagai jenis musik kontemporer, seringkali menggunakan bit yang cepat dan baru bagus jika didengarkan dengan power yang kuat dan sound system yang berkualitas tinggi. Seringkali syairnya hanya berisi syahwat, mengumbar nafsu, dan terkadang melabrak rambu-rambu moral. Lagu-lagu seperti ini dalam jangka panjang akan membawa pikiran sadar maupun bawah sadar kepada gelombang beta yang memiliki karakteristik meningkatkan tingkat depresi, rasa resah, lelah.

Ketika kita memiliki waktu luang, untuk apa kita gunakan? Ketika banyak kita gunakan untuk nonton TV, banyak bengong dan tidur menunjukkan kondisi ruhiyah yang lemah. Seringkali muncul pikiran berkecamuk hebat, dengan tingkat depresi tinggi, namun tidak tahu harus berbuat apa, dan pada akhirnya tingkat produktifitas diri menjadi rendah.

Sebaliknya, jika kita memiliki kondisi ruhiyah yang prima, waktu demi waktu berjalan demikian berharga dan menyenangkan. Sebagian waktu malam kita gunakan untuk kontemplasi, dimana sejuknya embun iman terasa mengisi relung-relung jiwa. Shalat fajar sangat sayang untuk ditinggalkan karena lebih baik dari dunia dan seisinya. Perjalanan menuju mesjid untuk shalat shubuh berjama’ah menjadi saat-saat yang indah. Kaki melangkah dengan satu kebaikan di tiap langkahnya, sembari bergumam: “Allahummaj’al fii qolbii nuuro, wa fii lisaani nuuro…..“.

Keimanan pada sunnah Rasulullah menjadikan kita enggan untuk langsung tidur habis shalat shubuh. Tidur sehabis shubuh adalah menolak rizki, sebagaimana tidur antara ashar dan maghrib dapat menjadi pintu datangnya penyakit. Waktu yang Allah sediakan antara shubuh hingga dhuha, sangat nikmat kita gunakan membaca wirid Al Ma’tsurat Kubro disambung dengan tilawah Al Quran beberapa lembar. Betapa nikmatnya hari yang diawali dengan amalan ibadah seperti ini.

Melaksanakan hal di atas pasti berat jika belum terbiasa, namun jika sudah menjadi kebiasaan akan sangat luar biasa untuk kehidupan kita. Jika tidak ada keperluan penting, jangan tidur terlalu malam agar dapat bangun dini hari dalam keadaan segar. Serta hindari maksyiat, perbanyak istighfar, insya Allah kita akan dimudahkan untuk melaksanakan semua kebaikan di atas. Wallahu a’lam.

Kamar Hotel sebagai Mihrab


Seringkali, tuntutan tugas membuat kita harus menginap di hotel. Banyak orang terperosok ke lembah kemaksyiatan ketika bermalam di luar kota jauh dari keluarga, apalagi hanya seorang diri dan tidak dikenal oleh penduduk kota tersebut. Mulai sekarang syukurilah, jika Anda mendapat kesempatan bermalam di kamar hotel, karena Anda memiliki peluang untuk merasakan kenikmatan tiada tara, berkhalwat dengan Allah SWT di Mihrab kamar hotel Anda.
Ingatlah, Allah dan para malaikat-Nya tetap bersama kita walaupun kita jauh dari rumah. Jauhi maksyiat dan jangan sampai ikut-ikutan rekan kita yang biasanya lupa diri dan merasa bebas di tanah orang. Percayalah, maksyiat akan lebih banyak merugikan kita. Mulai dari berkurangnya atau hilangnya rasa cinta kepada keluarga, hilangnya keimanan dan nikmatnya ibadah, rasa stress dan depresi yang berkepanjangan. Belum lagi resiko ketahuan dan cemarnya nama baik kita, yang bisa menghapus kerja dan citra diri yang sudah kita bangun berpuluh-puluh tahun, ditambah resiko tertular penyakit. Jika belum cukup, ingatlah nikmat-nikmat yang telah Allah berikan, istri yang shalihah, anak-anak yang cerdas dan pintar, nikmat Iman, tegakah semua itu kita hianati?

Di Jakarta terlalu banyak pekerjaan dan beban pikiran. Kita sering tidur larut membuat kita susah bangun malam. Tubuh lelah, jiwa letih…. butuh istirahat tawaquf sejenak. Sekaranglah saatnya, Allah memberi kesempatan di kamar hotel ini, di tempat yang jauh dari beban pikiran dan pekerjaan, kita bisa memberi istirahat dan rihlah bagi jasad dan jiwa ini.

Langkah pertama, begitu memasuki kamar hotel yang masih rapi, bayangkanlah nanti malam tempat ini akan menjadi mihrab kita bermesraan dengan Allah SWT. Usahakan tidur jangan terlalu malam, agar bangun dini hari dalam keadaan fresh dan segar.

Bawalah selalu sajadah di tas Anda. Siapkan mihrab Anda sebelum tidur. Bangkitkan kerinduan pada Khaliq sebelum lelap di pembaringan. Usir semua gangguan syetan, dengan membaca ayat kursi, mu’awidzatain dan al-Ikhlash. Tidurlah dengan tenang dengan ridho dan kecintaan-Nya. Pasang alarm untuk menjamin kita bangun pada waktu yang kita inginkan.

Bangun dini hari, pujilah Allah, yang telah membangunkan kita kembali dari tidur, sebagaimana nanti Ia akan menghidupkan kita kembali dari kematian. Saat ini, alam tengah memancarkan gelombang Alfa kekhusyu’an. Hati kita pun merasa khusyu’ menahan kerinduan bertemu dengan-Nya. Pakailah busana terbaik nan suci, pakailah wewangian sebagai aromatherapy penambah kekhusyu’an. Nikmatilah ruku’ dan sujudmu, tumpahkan air matamu… rasakan kasih sayang-Nya meliputi tubuh-Mu…. Asma-Nya mengisi relung hatimu… Itulah kenikmatan hakiki….

Malam Hidayah


Malam ini, seorang hamba mengalami pengalaman spiritual, yang Subhanallah….. Prosesnya diawali dengan keinginannya yang kuat untuk semakin mengenal-Nya. Setiap habis shalat, terutama shalat lima waktu, ia selalu ingin dalam keadaan khusyu yang optimal. Sehabis shalat, masih merasakan nuansa khusyu, saat merasa dekat dengan Allah, selalu ia gunakan untuk berdo’a dengan menggunakan seluruh perasaan, memohon apa-apa yang ia inginkan dari Allah SWT. Waktu shalat menjadi waktu-waktu yang mengasyikkan, dan waktu shalat menjadi waktu-waktu yang selalu dinanti kedatangannya.

Sang hamba ini, tiba-tiba tersadar bahwa rasa cinta adalah anugerah dari Allah SWT. Jika Allah cabut rasa cinta, dari seorang hamba kepada isterinya, bayangkan betapa hancur rumah tangganya, bahkan bisa menghancurkan karir dan seluruh hidupnya. Dan rasa cinta ini, semata-mata karunia dan hadiah dari Allah, tidak bisa kita nalar, tidak bisa kita logika, tidak bisa dibeli dengan emas permata. Jika Allah masih menyuburkan rasa cinta dihatimu kepada pasangan hidupmu, bersyukurlah sedalam-dalamnya kepada Sang Maha Pemberi Cinta. Syukuri dan peliharalah cinta tersebut agar senantiasa bersemai subur dalam hatimu.

Setelah itu, sang hamba merasakan keheningan malam, dimana alampun menghamparkan nuansa kekhusyu’an, tiba-tiba gelombang kekhusyu’an menerpa batin dan raganya. Seketika muncul kerinduan untuk bermesraan dengan Rabb-nya. Dengan sangat jelas, Ia dapat merasakan cinta-Nya. Tanpa merasa berat dan merasa terpaksa sedikitpun, tidak mengindahkan dinginnya malam, ia mandi menghilangkan hadats besar, bersuci karena ingin segera menghadap Kekasihku. Dan mengenakan pakaian terbaiknya.

Teringat firman Allah SWT dalam hadis Qudsi, ”Apabila seorang hamba-Ku mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari. Apabila ia mendekati-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatinya satu hasta.”.

Inilah yang ia rasakan, jika Allah menghendaki, dijadikannya ringan untuk merasakan kenikmatan iman, mudah menapaki jalan syariat-Nya.

Detik-detik selanjutnya ia telah berada di nirwana-Nya. Ia merasakan ekstasi kenikmatan shalat malam yang tiada taranya, pantaslah seorang tabi’in mengatakan… “Jika tidak ada waktu-waktu indah di sepertiga malam, aku tidak akan betah hidup di dunia ini”. Ya Allah, jika Engkau berkenan, maka mudahlah jalan bagiku untuk mengenal-Mu, untuk taat kepada-Mu. Ya Rabb, jangan Engkau balik kembali hati kami ini setelah Engkau beri petunjuk kepada Kami…”.

Linangan air mata saat beribadat kepada-Nya, diiringi kekhusyu’an jiwa membuat hati bisa memahami ayat-ayat-Nya. Pemahaman yang tidak bisa dilakukan oleh akal pikiran. Pantaslah dalam Al Quran, memahami itu dilakukan oleh hati. Membaca surah Adh-Dhuha dan Alam Nasyrah seakan-akan baru pernah membaca saat itu. Merasakan dengan mendalam bahwa akhirat lebih utama dari dunia. Dan Allah kelak akan memberikan karunia-Nya kepada kita hingga kita puas. Hati demikian tersentuh ketika Allah mengingatkan dulu engkau yatim dan Allah melindungimu, dulu kita berada dalam kesesatan dan Allah memberikan hidayah-Nya, dulu kita kekurangan dan sekarang Dia memberikan kita kecukupan. Bukankah demikian halnya diri kita? Air mata berderai….. betapa selama ini kita kurang bersyukur kepada-Nya. Buktinya…. Kita belum berlaku baik kepada anak yatim, dan terkadang suka mengusir peminta-minta. Terlintas beraneka kenikmatan-kenikmatan yang Allah berikan, namun belum kita syukuri dengan semestinya. Maka pantaslah bila Allah belum menambah kenikmatan-Nya, sedang kenikmatan yang sudah adapun belum kita syukuri.

Surat Alam Nasyrah demikian melapangkan dada menghadapi kehidupan dunia yang menyesakkan. Surat ini cukup untuk mengobati stress akibat beban kehidupan yang berat. Cukuplah surat ini sebagai obat stress bagi yang mau menggunakannya. Dengan meyakini bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Yakin bahwa Allah akan memberikan kita kemudahan, maka laluilah kesulitan yang kita hadapi dengan ikhlas. Caranya kerjakan semua pekerjaan satu demi satu dengan sebaik-baiknya, dan jangan lupa untuk tetap menggantungkan harapan kepada Allah SWT.

Surah yang sama, ayat yang sama, namun jika Allah tidak menunjuki, seseorang bisa tidak mendapatkan apa-apa. Ya Allah limpahkanlah untuk kami hidayah-Mu, dan kepada keluargaku, Isteri dan anak-anakku, karena hidayah-Mu lah mereka menjadi generasi penegak shalat dan pengamal Al-Quran. Ya Allah, perkenankan hamba untuk semakin mengenal-Mu, perkenankan hamba untuk senantiasa bergantung kepada-Mu, memohon pertolongan-Mu…. Hingga hamba menghadap-Mu.

8 Nasihat Umar bin Khatthab RA :

1. Barang siapa meninggalkan ucapannya yang tidak perlu, maka ia akan diberi hikmah
2. Barang siapa meninggalkan penglihatannya yang tidak perlu, maka dia akan diberi kekhusu'an dalam hati.
3. Barang siapa meninggalkan makan yang berlebihan, maka dia akan diberi kenikmatan dalam beribadah.
4. Barang siapa meninggalkan tertawa yang berlebihan, maka dia akan deberi kewibawaan.
5. Barang siapa meninggalkan humor, maka dia akan dapat kehormatan.
6. Barang siapa meninggalkan cinta dunia, maka dia akan diberikan kecintaan kepada akhirat.
7. Barang siapa meninggalkan perhatiannya kepada aib orang lain, maka dia akan diberi kemampuan untuk memperbaiki aib sendiri.
8. Barang siapa yang meninggalkan penelitian tentang bagaimana wujud Allah, maka dia akan terhindar dari nifak.
(Nashoihul 'Ibad, hal 214 karya Imam Nawawi )

Senin, 24 September 2012

Pesan dan Kesan Spiritual Healing Batam


Peserta minimal PLx (Manajer) aktif, bahkan sebagian besar berperingkat Pengarah dan agenstok. Jumlah peserta 70 orang... Peserta hanya diberi waktu 2 menit utk menulis pesan dan kesan.

Insya Allah tanda-tanda KC Batam akan menjadi No. 1 mengalahkan Palembang.

Jarmiasih,
Subhanallah, saya belum pernah ikut pelatihan seperti ini dan sebahagia sekarang ini. Pelatihan ini membuat air mata selalu menetes. Semoga HPAI melalui mentor2 yg bersih jiwanya bisa membawa Islam ke arah kejayaan, Amien.

Syafariyani
Subhanallah... saat saya berada dalam training ini saya merasakan hal yang sangat luar biasa. Saya yakin sekali bahwa saya beruntung berada dan duduk di dalam gedung ini mendengarkan dan menyerapi setiap ilmu yg disampaikan pak Agung. Saya sangat berterimakasih pada suami yg telah memberi izin saya utk ikut training ini. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah karena aku diberi kesempatan untuk belajar disini, terimakasih HPAI.

Yon Cahyono,
Subhanalloh... Alhamdulillah... Allohu Akbar...!!! Luar Biasa!... Sebuah pelatihan Spiritual yg DAHSYAT, mampu membuka tabir dan jatidiri seorang hamba di mata sang Khaliq Allah SWT. Menyadari makna hidup utk dapat MENSYUKURI Ni'mat. Insya Allah, kami terlahir kembali dg RUH BARU secara Islami dan Ilahiyah. Allahu Akbar, Syukron SH.

Sri Kustini,
Alhamdulillah, saya semakin menyadari betapa Allah SWT sangat sayang pada saya, hingga saya diberi kesempatan yg bagus banget utk mengikuti SH ini. Saya menyadari betapa selama ini saya kurang bersabar dan mudah mengeluh. Insya Allah setelah pelatihan ini saya bisa berubah menjadi lebih baik. Mohon diadakan lebih sering ya... Bagus banget materinya

Siti Harumi
Alhamdulillah, saya jadi lebih tahu banyak lagi bhw spiritual kita mempunyai pengaruh luar biasa dalam kehidupan. Saya mendapat pelajaran yg sangat berharga bahwa kita harus selalu menjaga kestabilan pikiran dan hati, menjaga emosi dan berprasangka baik. Dan terutama sekali, di pelatihan ini saya berhasil menghilangkan dendam dan trauma saya di masa lalu. Mohon SH lebih sering diadakan di waktu yad.

Jufria N,
Alhamdulillah, dapat ilmu baru, simple but touchable... berharap kedepan menjadi pribadi yg lebih baik, Amieen. Sering2 diadakan acara seperti ini, hidup HPAI....

Turisah
Kalo bisa sering2 diadakan acara SH spt ini utk meningkatkan keimanan dan keislaman kita, kalau perlu setiap bulan. Acara ini banyak sekali manfaatnya, menjadi manusia yg selalu berpikir positif, menghargai orang lain, sabar, tawakal, selalu bahagia dan bersyukur. Pokoknya obat bagi spiritual kita.

Dewi,
Semoga acara ini bisa sering diadakan bukan hanya di Batam, tapi di seluruh Indonesia, biar semua bisa merubah paradigma gada Bahagia. Alhamdulillah dg acara ini bisa membuat perubahan hidup yg sangat besar buat saya khususnya dan utk orang banyak.

Restianti
Saya menjadi tahu betapa bahayanya negative thinking, emosi negatif, marah. Setelah mengikuti SH ini insya Allah saya berubah dari yg dulunya gampang marah, sekarang lebih baik.

Ratna Putri
Pada hari ini saya mendapat banyak ilmu dan tip-tip yg sangat baik sekali utk merubah diri menjadi jauh lebih baik, menghilangkan pikiran dan perasaan yg negatif yg selama ini seing timbul dalam benak saya. SH ini sangat baik mudah2an diteruskan lagi.

Aisyah,
Acara ini membuat saya mampu bersikap dan berfikir positif, optimis menjalani hidup dengan sabar, tawakal, tawadhu, mensyukuri ni'mat yg diberikan Allah SWT, menjalani kehidupan dg ikhlas. Dan saya lebi mampu memakai otak kanan saya. Acara ini benar2 baik, sangat bermanfaat bagi saya.

Martini,
Sangat luar biasa sekali manfaatnya, sangat menggugah, menyentuh hati, merubah pola pikir saya yg tadinya sering berfikit negatif, jarang bersyukur. Alhamdulillah, sekarang saya telah berubah lebih baik, sering2 melihat ke bawah, bisa selalu bersyukur shg bertambah2 keimanan kepada Allah SWT.

Febriani,
Subahanalloh... Training SH ini memberikan nutrisi hati bagi kami. APalagi skhirnya suami memutuskan utk ikut. Insya Allah kami dan suami dapat mengaplikasikan apa yg kami dapatkan dalam training ini dlm kehidupan kami, dalam perjuangan kami bersama HPAI. Semoga makin dekat dg Allah, Amien.

Dariningsih
Banyak sekali yg saya dapatkan. Mulai hari ini dan seterusnya, saya akan selalu bahagia dan bersyukur atas semua ni'mat Allah. Terimakasih HPAI

Tummy M,
Saya mendapat ilmu yang belum pernah saya dapatkan selama ini terutama bersikap positif dalam semua kejadian. Semoga acaranya berkesinambungan.

Eko Indra Wahyudi,
Santai, rileks tapi mengena. Materi penuh pelajaran hidup yg bermanfaat. Mendapat motivasi utk mendekatkan diri kepada Allah. Mohon waktu diperpanjang lagi shg materi bisa menyeluruh disampaikan.

Riyanto,
Membuka pikiran dan mata hati saya, utk menyikapi semua yg saya alami dengan sikap dan pikiran yg positif. Alhamdulillah di pelatihan ini, banyak sekali ilmu yg saya terima. Terima kasih banyak, Pak Agung, atas ilmu yg Bapak berikan.

Asmawati,
Pelatihan ini sangat bagus. Para leader hrs sering dapat training spt ini utk bekal memngembangkan diri. Mampu mengingatkan diriku utk selalu berpikir positif, mesnyukuri apa yg kita miliki skg. Saya bersyukur bisa bergabung di HPAI hingga mendapatkan ilmu2 yg bermanfaat.

Noname,
Sangat bagus, memotivasi diri saya utk berubah menjadi insan Super. Mohon diadakan ulang di Batam, supaya saya bisa mengajak suami, teman, keluarga utk mengikuti pelatihan SH ini agar mrk merasakan spt saya.

Noname,
Acara ini sungguh luar biasa, krn membuka cakrawala berpikir saya yg selama ini agak sempit dan selalu sensitif thdp keadaan yg berubah. Semoga ada materi lanjutannya.

Noname,
Penyampaiannya simple namun mudah diterima dengan baik. Menumbuhkan semangat baru dalam fastabiqul khoirot dan saya menjadi pribadi baru yg lebih baik, lebih greget dg semangat juang yg baru, insya Alla. Terus maju HPAI.

Noname,
Materi yg disajikan sangat bagus dan sangat terasa di dalam kehidupan kita setiap hari. Semoga presenter HPAI di Pusat bisa memberikan hal-hal yg baru kepada anggotanya dimanapun berada. Semoga kita bisa bertemu kembali dalam sesi2 yg sangat bermanfaat ini. Wassalam.

Noname,
Pelatihan ini mampu memotivasi perserta utk menjadi manusia yg lebih baik, berguna bagi sesama. Menggunakan tools-tools yg mudah dimengerti, aplikatif dan bermanfaat. Agar lebih sering diadakan dan disebarkan ke seluruh Umat Islam.

Noname,
Alhamdulillah, Subhanalloh, Astaghfirullah, Allahu Akbar, Acara ini menyadarkan diri saya bahwa kita tidak ada apa2nya, serta kita harus menyikapi apapun yg terjadi dg bijak. Makin menjadikan Al Quran dan hadits sebagai panduan kita dalam mengarungi kehidupan ini.

Noname,
Pelatihan ini membuka pola pikir saya, yg sebelumnya tidak ada dalam diri saya. Saya sangat senang dg adanya acara ini dan saya akan pergunakan ilmu ini sampai saya tua hingga mati.

Noname,
Saya mendapatkan ilmu yg bermanfaat yg belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Sering-sering diadakan seminar seperti ini lagi.

Minggu, 02 September 2012

Kisah Syahidnya Sa'ad bin Mu'adz

Banyak episode-episode dalam Film Omar ibn Khattab yang membuat air mata kita mengalir. Saat Islamnya Umar, saat meninggalnya Abi bin bi Thalib, saat tibanya Rasulullah SAW di Madinah.

Episode lain yang mampu menguras air mata kita, adalah saat meninggalnya Sa'ad bin Mu'adz.

Beliau terkena panah dalam perang Khandaq.

Ketika menjemput syahid, ia berkata :

"Aku telah berdoa kepada Allah (agar membiarkanku hidup) bila masih harus menunggu peperangan dengan orang Quraisy.

dan apabila Allah menentukan kita harus berperang dengan mereka.

Agar menjadikanku syahid...

Ketika sudah selesai perang dan urusan dengan bani Quraizhah, aku mendengar Rasulullah S.A.W. bersabda: "Mereka tak akan memerangi kita setelah ini"

maka air mataku pun menetes sehingga aku pun tahu bahwa Islam mulai saat ini sudah menang, bukan kalah.

duri-duri pun sudah hilang dan orang-orang musyrik akan tertinggal.

sungguh aku berharap kepada Allah agar mengabulkan doaku (untuk menjadi syahid)".

[Kemudian Sa'ad, menghembuskan nafas terakhirnya, menuju Zat yang sangat mencintainya]


Sungguh teladan yang sangat mulia. Shahabat yang menghendaki hidupnya hanya untuk berjuang. Seorang mulia yang telah memenuhi janjinya kepada Allah.

Hingga kemudian Ummu Sa'ad meratapi meninggalnya Sa'ad. Bilal menegur Ummu Sa'ad agar jangan meratapi, "Janganlah engkau meratap, wahai Ummu Sa'ad! Tapi bersabar dan bermuhasabahlah, Allah menyukai kesabaranmu".

Namun Umar berkata: 
"Biarkan ia, wahai Bilal... Karena Rasul S.A.W. bersabda:""Setiap peratap itu berpura-pura kecuali untuk Sa'ad bin Mu'adz"".


Wahai saudaraku...
Sudah sejauh mana perjuangan dan pengorbanan kita?
Astaghfirullah.......