Selasa, 07 Agustus 2012

Nilai Kesuksesan Hidup Kita

Di sore indah ini saat menanti buka puasa saya ingin menceritakan sebuah kisah.

Ada 4 orang yang memilih jalan kehidupan yang berbeda-beda.

Orang I, melihat bahwa hidup di dunia ini demikian berat, dan ia merasa tidak mampu untuk berprestasi. Ia memilih untuk hidup apa adanya saja, yang penting bisa makan, bisa hidup normal. Ia tidak mau bekerja lebih keras dan menempuh resiko hidup yang lebih tinggi. Setelah ia meninggal, tidak ada orang yang mengenangnya.

Orang II, melihat bahwa banyak yang ia kerjakan dalam kehidupan di dunia. Ia mampu berprestasi dan membahagiakan keluarganya. Namun ia enggan berbuat untuk orang banyak, karena ia menganggap yang berhak menikmati jerih payahnya hanya orang-orang terdekatnya saja. Setelah ia meninggal, ia hanya dikenang oleh keluarganya saja, dan dilupakan oleh orang lain.

Orang III, melihat bahwa amat banyak peluang bisa ia raih dalam kehidupan dunia. Baginya, yang penting bisa menikmati dunia sepuas-puasnya yang hanya sebentar. Ia tidak peduli halal ataupun haram. Uang korupsi ia ambil juga. Usaha menipu dan mengambil hak orang lain, tanpa ragu ia lakukan. Hingga akhirnya ia dijebloskan di penjara dan mati menderita.

Orang ke IV, melihat bahwa disamping peluang untuk meraih kesuksesan di dunia, ia melihat kesuksesan "lain" ketika bisa membahagiakan orang banyak. Waktunya ia curahkan maksimal untuk meraih kesuksesan dan kejayaan. Namun hasil kesuksesannya ia gunakan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Ia mengamalkan sabda Nabi, sebaik-baik kamu adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Mari kita menilai diri kita sendiri, apakah kita seperti Orang I, II, III, atau IV. Jika kita nilai, Orang I memiliki nilai kesuksesan 25, Orang II memiliki nilai 50, Orang III memiliki nilai 0 dan orang ke IV memiliki nilai kesuksesan 100.

Suatu ketika di Masjid Al-Mujtaba' Duren Sawit, merbot (penjaga) masjid tersebut meninggal dunia. Sang Almarhum dalam istirahatnya menyunggingkan senyum yang sangat manis, seakan menampakkan kebahagiaan akan berjumpa dengan Tuhannya. Banyak orang takjub dengan pemandangan ini, hingga banyak pelayat mencium kening sang Almarhum.

Kemudian beredarlah kisah-kisah indah, bahwa Almarhum secara konsisten selalu hadir 30 menit sebelum shalat 5 waktu dimulai untuk membersihkan dan menyiapkan masjid. Dan ini telah beliau lakukan selama 20 tahun. Almarhum juga terkenal sebagai sosok yang ramah, murah senyum dan tidak pernah mengeluh.

Tuhan Maha Adil. Untuk memiliki Nilai Kesuksesan 100 kita tidak perlu lebih dahulu menjadi orang kaya atau pejabat tinggi. Seorang merbot masjid, atau penyapu jalanan ketika ia lakukan tugasnya dengan penuh cinta, dedikasi dan kesetiaan yang tinggi, maka nilai kesuksesannya akan sangat luar biasa, baik di mata manusia apalagi dihadapan Allah SWT. Karena ia menyapu jalanan seperti Beethoven menggubah musik, atau seperti Pablo Piccasso melukis. Hingga para Malaikat dan penghuni surga merasa takjub, bahwa disini pernah hidup seorang merbot, seorang penyapu jalan yang melakukan tugasnya dengan sempurna penuh cinta.

Agung Yulianto

Jumat, 02 Maret 2012

Keikhlasan, Saat Dirimu Merasa Tidak Lebih Baik daripada Orang Lain


Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com - (David Hadi) Melakukan keikhlasan, tidaklah semudah mengatakannya. Sebagaimana pernah diakui oleh seorang ulama besar Sufyan ats-Tsauri, beliau berkata, “Tidak ada suatu perkara yang paling berat bagiku untuk aku obati daripada meluruskan niatku, karena niat itu bisa berubah-ubah terhadapku.”

Namun, bukan berarti ikhlas itu tidak dapat dilakukan, dan bukan berarti ikhlas tidak dapat diusahakan. Karena ikhlas adalah suatu ‘ilmu’. Ilmu di mana kita dapat mempelajarinya, dan terus mempelajarinya, sampai akhirnya kita benar-benar paham akan makna ikhlas. Ikhlas itu sendiri merupakan hal yang amat sakral, ia adalah perintah dan ia adalah syarat diterimanya suatu ibadah.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Memang benar, ikhlas adalah rahasia, rahasia dalam hati masing-masing insan. Dan ikhlas adalah rahasia dari rahasia yang teramat lembut, sehingga samar dari dugaan semua yang hidup. Begitu samar dan tersembunyi, sehingga sulit bagi diri seseorang atau orang lain untuk mengukur kemurniannya. Dalam hadits Rasulullah SAW dikatakan:

“Keikhlasan adalah rahasia yang diambil dari rahasia-rahasia-Ku. Aku telah menempatkannya sebagai amanat di hati sanubari hamba-hamba-Ku yang Aku Cinta.” (HR. al-Qazwaini)

Hasan al-Banna pernah berkata tentang makna ikhlas, “Ikhlas adalah seorang saudara muslim yang bermaksud dengan kata-katanya, amalnya, dan jihadnya, seluruhnya hanya kepada Allah, untuk mencari ridha Allah dan balasan yang baik dari Allah dengan tanpa melihat kepada keuntungan, bentuk, kedudukan, gelar, kemajuan, atau kemunduran. Dengan demikian ia menjadi tentara aqidah dan fikrah dan bukan tentara keinginan atau manfaat.”

Salah satu sebab jauhnya diri kita dari ikhlas ialah sifat ‘ujub, sifat berbangga diri yang berlebihan, dan menganggap orang lain tidak lebih baik dari diri kita. Sifat ini yang sering muncul tanpa kita sadari, yang mampu merobek-robek keikhlasan dalam diri kita. Ia yang mampu menodai kemurnian ikhlas dalam hati dan ia yang mampu mengotori hati dengan lendir-lendir kenistaan.

Tentunya kita tak ingin, keikhlasan yang ada di dalam hati ini, keikhlasan yang selalu kita jaga ini, ternodai dan bahkan terkotori. Dan hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga keikhlasan adalah dengan menghapus sifat ‘ujub itu dari dalam hati, membuangnya jauh-jauh tanpa tersisa. Dimulai dengan hal yang kecil dan sederhana, yaitu anggaplah orang lain lebih baik daripada diri kita, anggaplah ia lebih mulia di sisi Allah.

Jikalau kita melihat seseorang yang lebih muda daripada kita, maka hendaklah kita berkata, “Anak ini masih muda usianya, belum banyak berbuat dosa dan bermaksiat kepada Allah, sedangkan aku yang sudah lebih tua darinya tentu telah banyak berbuat dosa dan bermaksiat kepada Allah. Maka tiada keraguan lagi bahwa ia lebih baik daripada aku di sisi Allah.”

Jikalau kita melihat seseorang yang lebih tua daripada kita, maka hendaklah kita berkata, “Orang tua ini sudah beribadah kepada Allah lebih dahulu daripada aku, maka tiada keraguan lagi bahwa ia lebih banyak pahalanya, lebih mulia daripada aku di sisi Allah.”

Manakala kita melihat orang alim, maka hendaklah kita berkata, “Orang alim ini telah dikaruniakan kepadanya bermacam-macam pemberian ilmu yang tidak dikaruniakan kepadaku. Ia telah sampai ke martabat yang aku tak sampai kepadanya, dan ia mengetahui berbagai masalah yang tak aku ketahui, maka bagaimana aku bisa sepertinya sedangkan diriku masih bergelimang dengan dosa dan maksiat?”

Bila kita melihat orang yang bodoh, maka hendaklah kita berkata, “Orang ini bodoh lantas ia berbuat maksiat kepada Allah dengan kejahilannya, tetapi aku berbuat maksiat dengan ilmuku, dengan kesadaranku, maka bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah nanti?”

Saat kita menyaksikan orang fasik atau ahli maksiat, maka hendaklah kita berkata, “Benar orang ini jasadnya bergelimang dalam kemaksiatan dan dosa, tapi siapa yang tahu kalau sebenarnya hatinya selalu benci pada kemaksiatan yang ia lakukan, dan bersamaan dengan itu ia tetap mengagungkan Tuhannya. Terbuka kemungkinan suatu saat nanti ia bertaubat dan menyesali perbuatannya, lalu ia melakukan amal shalih yang nilainya lebih tinggi di mata Allah daripada aku. Sedangkan aku sendiri sampai saat ini dan nanti, tidak pernah tahu apakah ketaatanku itu diterima oleh Allah atau tidak. Dan aku juga tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi pada diriku esok hari.”

Di kala kita melihat orang kafir, maka hendaklah kita berkata, “Aku tidak tahu, kemungkinan orang kafir ini akan beriman, memeluk agama Islam dan akhirnya mempunyai husnul khatimah, sedangkan aku tidak tahu apakah akan bisa menjaga keimanan ini hingga akhir hayat dan mendapatkanhusnul khatimah?”

Pertanyaan seperti ini bukan mengada-ada, tapi pasti dan yakin. Karena jika kita bertanya, siapakah yang dapat memastikan kalau kita dapat menjaga keimanan ini hingga akhir hayat, lalu kita memperoleh husnul khatimah? Siapa yang bisa tahu secara pasti kalau dirinya pasti diampuni oleh Allah? Siapakah yang dapat menjamin kalau diri kita pasti selamat di akhirat? Semua itu adalah rahasia Allah, yang tiada seorang pun yang dapat mengetahuinya. Bahkan beliau, Rasulullah SAW berkata:

“Katakanlah: Aku tidak mengatakan padamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah, ‘Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?’ Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (QS. Al-An’aam: 50)

“Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-‘Araaf: 188)

—

Referensi: Mahmud Ahmad Mustafa, Dahsyatnya Ikhlas.



Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19139/keikhlasan-saat-dirimu-merasa-tidak-lebih-baik-daripada-orang-lain/#ixzz1o1Nz8M6R

Minggu, 09 Oktober 2011

Kultwit tentang Rizki dan Kasab

  1. Di pagi yg sejuk ini, saya mau berbagi tentang rizki dan #kasab, moga manfaat
  2. arti #Kasab adalah penghasilan. Zakat dihitung dari "mimma kasabtum". Kasab: Gaji, bonus, fee dll
  3. Kata Rasul SAW: Rizki itu ada 3: yg kamu makan sampai kenyang, yg kamu pakai sampai usang, yang kamu sedekahkan
  4. Tidak semua #Kasab akan menjadi rizki. Dan tdk semua rizki kita dari kasab kita sendiri
  5. Walaupun #Kasab nya tinggi, orang yg asam urat tidak bisa makan enak. Rizki nya sedikit dlm hal makanan
  6. Seorang PRT di rumah mewah, bs makan enak menikmati fasilitas, berarti rizki nya tinggi walaupun #Kasab nya pas-pasan
  7. Rizki adalah yg benar-benar kita nikmati untuk kebahagiaan kita. #Kasab belum tentu...
  8. Imam Ghazaly dlm Ihya 'Ulumuddin mengatakan harta korupsi sekali-kali tidak akan menambah rizki seseorang! Nambah kasab, mungkin saja
  9. Justru Sedekah, akan merubah #Kasab menjadi rizki kita 100%. Krn di akhirat nanti tinggal inilah harta yg kita bawa
  10. Maka yg kita cari adalah rizki yg barokah, bukan #Kasab yg membawa bencana. Sekian moga manfaat

Rabu, 28 September 2011

Tentang KESETIAAN

Puisi BJ Habibie untuk Almarhumah Istrinya:

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada air mata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,

Kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

Selamat jalan, calon bidadari surgaku...

BJ. HABIBIE:)

Nothing is more noble, nothing more venerable than FIDELITY. FAITHFULNESS and Truth are the most sacred excellences and endowments of the human mind.

Kebanyakan kisah yg indah dikenang, yg mampu menumpahkan air mata, adalah tentang KESETIAAN

Kesetiaan kpd kekasih, tanah air, dan kesetiaan paling puncak pada Sang Pencipta

Wa man aufaa bima 'aahadallahu 'alaihi fasayu'thiihi ajran 'azhiima
(Agungy)


Selasa, 20 September 2011

2 Pilar untuk Kejayaan Indonesia

Kultwit di @agungyul

Setelah membaca buku Imperium III ttg sebab2 kejayaan dan kehancuran suatu bangsa. Saya berkesimpulan, Indonesia bisa Jaya, jika memperbaiki 2 pilarnya.

Selama 2 pilar ini, dibiarkan seperti ini, maka bangsa ini akan terus seperti sekarang ini, atau dengan kemajuan yang sangat lambat sekali

Pilar 1 adalah Pendidikan. Mengapa sekarang Pendidikan makin mahal, dan kualitasnyapun tidak semakin bagus

Padahal APBN utk Pendidikan sdh 20%. Dulu anak petani yang pintar bisa jadi dokter spesialis, sekarang mana bisa?

Masuk FK harus siapkan uang Rp 300 juta. Mending cari beasiswa ke LN, habis itu kerja di LN (braindrain).

Pilar II adalah Sistem Politik dan Demokrasi. Orang kuat model Napoleon, Hitler, Churchil, Erdogan tdk mungkin muncul dg Sistem Politik Indonesia sekarang ini

Satu2nya cara adalah dg memperbaiki dan menguatkan Sistem Demokrasi dan Sistem Politik untuk memunculkan kepemimpinan bangsa yg kapabel dan berintegritas

Sistem Politik sekarang, sangat mahal bagi Parpol, akibatnya setelah menjabat korupsi dilakukan dengan gotong royong.

Jika 2 hal ini, Sistem Pendidikan dan Sistem Politiknya bagus saya yakin, Indonesia akan jaya!


Minggu, 11 September 2011

Sifat dan Aktivitas Orang Kaya yang Bahagia

Sebuah lembaga penelitian di Amerika Serikat melakukan penelitian tentang perilaku orang-orang yang sukses dan bahagia dan hasilnya dibukukan dalam buku berjudul The Millionaire Mind karya Thomas J. Stanley.

Dari 200.000 orang yang diteliti ternyata hanya 200 (1 permil) orang yang benar-benar berbahagia. Kebanyakan mereka adalah orang-orang kaya generasi pertama, yang memperoleh kekayaan dari hasil jerih payahnya sendiri dan bukan dari warisan orang tuanya.

Para miliuner ini diwawancarai satu per satu dengan mendetil. Dan diperoleh kesimpulannya adalah, bahwa orang-orang kaya yang bahagia mereka memiliki sifat:
  1. Memiliki integritas: Jujur dan tidak mengingkari janji
  2. Disiplin: terhadap waktu, termasuk dalam hal makanan. Mereka tidak sembarangan mengkonsumsi makanan, dapat menahan nafsu dan tidak serakah
  3. Mengembangkan Keterampilan Sosial: Pandai bergaul, memiliki hubungan persahabatan yang baikm mempelajari leadership dan senantiasa mengembangkan diri.
  4. Setia kepada pasangan: Mereka sangat menjaga kebahagiaan dalam keluarganya, menjaga cinta dengan pasangan hidupnya, dan memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Dan pasangan hidupnya mendukung sepenuhnya dalam keadaan apapun.
  5. Hemat: Mereka hidup sewajarnya. Standar hidupnya jauh di bawah penghasilannya. Mereka juga tidak diperbudak mode kendati tetap modis dan tidak kuno. Mereka bisa disebut miliuner zuhud karena tidak memaksakan kehendak kepada Tuhan. Berapapun asset yang diberikan Tuhan, mereka akan bersyukur. Selain itu mereka juga anti hutang.
  6. Bersandar pada Tuhan: Umumnya mereka memiliki spiritualitas yang baik. Sehingga ketika beberapa kali terjadi resesi ekonomi di AS, mereka tidak menjadi depresi, bahkan tetap optimis.
  7. Pola Pikir yang Berbeda: Jika mereka pergi ke Mal, pandangan mereka tidak pada barang-barang yang menarik untuk dibeli tetapi melihat bisnis apa yang seang laku di mal tersebut.
Bagaimana aktivitas mereka? Orang-orang kaya dan bahagia ini selalu memiliki 4 aktivitas, yaitu:
  1. Olahraga
  2. Investasi
  3. Do'a
  4. Membina Hubungan

Minggu, 21 Agustus 2011

Penyembelihan dengan Kasih Sayang sesuai Syari'at Islam

Subhanallah, berikut ini adalah link tentang Penyembelihan dengan penuh kasih sayang sesuai syari'at Islam. Wajib ditonton dan kita praktekkan dalam penyembelihan Qurban setiap Idul Adha.




Subhanallah, jika caranya benar, ternyata hewan qurban merasa sangat relax, tidak merasakan sakit, seperti tidur panjang saja.

Sangat baik jika ada yang memulai membuat LSM yang mengajarkan bagaimana penyembelihan Qurban yang baik. Saya melihat penyembelihan di Masjid-masjid, hewan Qurbannya masih hidup sudah mulai di potong dengkul kakinya.

Saya kutipkan penelitian menakjubkan tentang penyembelihan secara syari'ah yang dikutip dari Islam

Penyembelihan Hewan Sesuai Islam Tidak Menyakiti Hewan
Friday, 11 March 2011. 08:10

Islamedia. Saat ini umat Islam banyak dihadapkan pada tudingan-tudingan negatif, sebagai contoh, kita semua tahu bahwa setiap tahun masyarakat Islam merayakan ibadah Qurban. Ibadah tersebut merupakan perwujudan persembahan terbaik kita kepada Allah Swt.Ibadah Qurban dilaksanakan melalui prosesi penyembelihan hewan qurban (sapi, kambing, domba, unta, dll.) dengan cara tertentu.

Daging-daging binatang qurban tersebut dibagi-bagikan kepada fakir miskin, masyarakat, dan sanak kerabat. Akan tetapi, kelebihan ini sering dikaitkan dengan suatu hadits yang sering diartikan lain. Hadist tersebut berbunyi:

Rasulullah SAW. bersabda : "Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan (ihsan) pada segala sesuatu, maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih, maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih, (yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelihnya" (HR. Muslim).

Hadits ini nampaknya agak sulit untuk dijelaskan. Betapa tidak, di dalamnya terkandung kalimat bahwa seakan Allah memerintahkan kita untuk "membunuh", apalagi ada kata-kata, "tajamkanlah pisaunya". Bukankah ini menunjukkan bahwa umat Islam memang dilatih untuk membunuh dengan kejam. Bahkan yang lebih aneh lagi, ada kalimat, "meringankan binatang yang disembelih" (Aneh, khan?! Masak membunuh koq pakai kalimat basa-basi "meringankan binatang yang disembelih"! Padahal kita tahu, disembelih khan tentunya sakit sekali!?).

Lalu, bagaimana cara menyikapinya? Menolak tanpa bisa memberi argumen (bantahan) atau menerima dengan setengah hati? Sebegitu sulitkah kita meyakinkan diri bahwa Syari'at Islam adalah syari'at yang terbaik?

Subhaanallah, di tengah-tengah kegundahan umat Islam, dengan sengaja Allah Swt. telah kirimkan jawabannya. Allah Swt. menugaskan 2 orang staf ahli peternakan dari Hanover University, sebuah universitas terkenal di Jerman. Beliau berdua adalah Prof. Dr. Schultz dan koleganya, Dr. Hazim. Berdua beliau memimpin suatu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan: manakah yang lebih manusiawi dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syari'at Islam (tanpa proses pemingsanan) , atau penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan).

Beliau berdua merancang penelitian sangat canggih mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi tersebut dipasang elektroda tertentu (microchip) yang disebut Electro-Encephalogr aph (EEG). EEG dipasang pada permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak. Alat ini dipakai untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Pada jantung sapi-sapi tersebut juga dipasang Electro-Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar.

Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkanberadaptasi dengan EEG dan ECG (yang telah terpasang) beberapa minggu. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, separuh sapi disembelih secara Syari'at Islam dan separuh sisanya disembelih secara metode Barat.

Syari'at Islam menuntunkan penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang sangat tajam dengan memotong 3 saluran pada leher bagian depan (saluran makanan, saluran nafas, serta 2 saluran pembuluh darah, yaitu : arteri karotis dan vena jugularis). Syari'at Islam tidak merekomendasikan pemingsanan. Sebaliknya, Metode Barat (Western Method) mengajarkan ternak dipingsankan dahulu sebelum disembelih.

Selama penelitian, EEG dan ECG pada seluruh ternak dicatat untuk merekam keadaan otak dan jantung semenjak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga hewan ternak benar-benar mati. Nah, hasil penelitian inilah yang kita tunggu-tunggu!

Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim di Hanover University Jerman adalah sebagai berikut :

Penyembelihan menurut tuntunan Syari'at Islam
Pertama, pada 3 detik pertama setelah disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih tidak ada indikasi
rasa sakit.

Kedua, pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara gradual (bertahap) yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi tersebut benar-benar kehilangan kesadaran. Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.

Ketiga, setelah 6 detik pertama tersebut, ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleks gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Subhaanallah, pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher tersebut, grafik EEG tidak naik, tapi justeru drop sampai ke zero
level (angka nol).

Diterjemahkan oleh kedua ahli tersebut bahwa, "No feeling of pain at all" (tidak ada rasa sakit sama sekali!) Allaahu Akbar! Walillaahil hamdu!

Keempat, oleh karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi oleh manusia. Jenis daging semacam ini sangat sesuai dengan prinsip
Good Manufacturing Practice (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.

Penyembelihan ala Barat (Western Method)

Pertama, segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan collaps. Setelah itu, sapi tidak bergerak-gerak lagi sehingga mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dapat dengan mudah disembelih, tanpa
meronta-ronta, dan (nampaknya) tanpa rasa sakit. Pada saat disembelih, darahyang keluar hanya sedikit (tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning).

Kedua, segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal tersebut mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (pada saat kepalanya dipukul).

Ketiga, grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik darah dari seluruh organ tubuh serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.

Keempat, oleh karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak sehat), sehingga tidak layak dikonsumsi oleh manusia. Disebutkan dalam khasanah ilmu dan
teknologi daging (dipelajari di Fak. Peternakan UGM), bahwa timbunan darah (yang tidak sempat keluar pada saat ternak mati/ disembelih) merupakan tempat yang sangat ideal bagi tumbuh kembangnya bakteri pembusuk yang merupakan agen utama perusak kualitas daging.

Maha Suci Allah! Meronta-ronta dan meregangkan otot pada saatternak disembelih ternyata bukanlah ekspresi rasa sakit! Sangat jauh berbeda dengan dugaan kita sebelumnya! Bahkan mungkin sudah jamak menjadi keyakinan kita bahwa setiap darah yang keluar dari anggota tubuh yang terluka pastilah disertai rasa sakit dan nyeri. Lebih-lebih yang terluka adalah leher dengan luka terbuka yang menganga lebar!

Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim berhasil membuktikan bahwa pisau yang mengiris leher (ref. Syari'at Islam) tidaklah "menyentuh" saraf rasa sakit. Oleh karenanya, beliau berdua menyimpulkan bahwa sapi meronta-ronta dan
meregangkan otot bukanlah ekspresi rasa sakit, tetapi hanyalah ekspresi "keterkejutan otot dan saraf" saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras). Mengapa demikian?

Tentunya, hal ini tidak terlalu sulit dijelaskan (grafik EEG tidak menunjukkan adanya rasa sakit). Apabila telah disembelih, tetapi sapi tidak segera mati, bolehkah kita menusuk jantungnya? Sering kita melihat bahwa setelah disembelih, banyak sapi yang tidak segera mati. Seringkali pula kita merasa kasihan, sehingga muncul ide di benak kita
untuk menusuk jantungnya. Sikap ini umumnya berawal dari kekhawatiran kita kalau-kalau sapi terlalu lama menahan sakit. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Blackmore (1984), Daly et al. (1988), Blackman et al. (1985), dan Anil et al. (1995) di 4 negara yang berbeda membuktikan bahwa setelah disembelih, sapi memerlukan waktu lebih lama untuk
benar-benar mati. Hal ini diduga disebabkan oleh ukuran tubuh sapi yang lebih besar dibandingkan kambing, domba, rusa, ayam, dll. Untuk itu, sebaiknya kita menunda hingga sapi benar-benar mati dan tidak perlu menusuk jantungnya. Bila kita menusuk jantungnya, maka jantung akan sobek dan kehilangan fungsinya untuk memompa darah, sehingga darah tidak dapat maksimal terpompa keluar tubuh. Selain itu, sobeknya jantung diduga akan menimbulkan kejutan rasa sakit yang amat sangat bagi hewan ternak yang bersangkutan.

Oleh : Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P.
Sekretaris Eksekutif LPPOM Majelis Ulama Indonesia Propinsi DIY dan Dosen
Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta